Mengupas Film “Gowok: Kamasutra Jawa” – Antara Budaya, Seksualitas, dan Emansipasi
- By admin
- 0 comments

🎬 Tentang filmnya
- Film ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan diproduseri oleh Raam Punjabi melalui rumah produksi MVP Pictures & Dapur Films.
- Judul internasionalnya: Gowok: Javanese Kamasutra.
- Latar waktu: Era sekitar tahun 1955‑1965 di Jawa.
- Sinopsis singkat:
- Di tengah budaya Jawa tradisional terdapat profesi “gowok”: seorang perempuan yang mengajarkan calon pengantin pria tentang kehidupan intim, bagaimana memuaskan istri, bagaimana menghargai perempuan dalam ranah rumah tangga.
- Tokoh utama: Nyai Santi (diperankan oleh Lola Amaria) adalah seorang gowok legendaris. Dia mendidik Ratri (diperankan oleh Raihaanun) — yang kemudian kisahnya berkembang dengan konflik pribadi, cinta, pengkhianatan, dan pembalasan dendam.
- Film ini mengangkat isu‑isu besar: seksualitas, pendidikan seksual dalam masyarakat tradisional, hak perempuan, norma patriarki.
- Film ini tayang di bioskop Indonesia mulai 5 Juni 2025.
- Film ini juga masuk kompetisi internasional: International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2025 pada kategori Big Screen Competition.
❓ Kenapa film ini sangat menarik?

Ada beberapa aspek yang membuat film ini patut diperhatikan:
- Tema yang jarang dibahas dalam sinema arus utama
- Tradisi “gowok” sendiri bukan hal umum dibahas dalam film Indonesia modern: yakni perempuan yang mengajarkan laki‑laki tentang hubungan intim dan kepuasan pasangan. Ini membuka ruang diskusi soal seksualitas dan hak perempuan dalam konteks budaya Jawa yang tradisional.
- Film ini juga mengangkat bagaimana suatu praktik tradisional yang mungkin dilihat tabu atau kontroversial justru memiliki makna historis dan budaya yang kompleks.
- Konteks budaya & historis yang kuat
- Dengan latar era 1950‑an hingga 1960‑an dan mengutip warisan kitab‑kitab kuno Jawa seperti Serat Centhini, Nitimani, Wulangreh — film ini memberi nuansa yang berbeda: bukan hanya cerita percintaan biasa, namun juga penggalian budaya leluhur.
- Ini membuat film bukan sekadar hiburan, tetapi juga refleksi terhadap bagaimana tradisi lama bisa dilihat ulang di era modern.
- Isu sosial yang relevan
- Seksualitas, pendidikan pranikah, peran dan hak perempuan: semua ini dibahas secara eksplisit dalam film. Contohnya: “dia mengajarkan calon pengantin pria bagaimana cara memuaskan istrinya di atas ranjang” — sebuah narasi yang sangat jarang muncul di film Indonesia mainstream.
- Film ini juga mengajak penonton untuk mempertanyakan norma‑patriarki dalam budaya tradisional dan bagaimana tradisi bisa menjadi alat pembebasan ataupun penindasan.
- Produksi dan penerimaan internasional
- Masuk dalam kompetisi film internasional (IFFR) menunjukkan bahwa film ini bukan hanya untuk pasar lokal tetapi punya kualitas yang diakui secara global.
- Memang tema yang diangkat bisa terasa ‘berani’ atau ‘tabu’ di Indonesia, namun menurut sutradaranya bisa punya daya tarik universal.
- Visual & setting yang menarik
- Dengan latar zaman dahulu, settingnya memungkinkan sinematografi, kostum, suasana yang otentik dan berbeda dari film‑film kontemporer biasa. Ini memberi estetika yang bisa menarik secara visual.
- Selain itu, konflik personal yang dihadirkan — cinta, dendam, pengkhianatan — membuat narasi lebih dari sekadar ‘pelajaran budaya’, tetapi ada drama yang bisa menyentuh emosi penonton.
🔍 Catatan penting
- Karena tema dan konten yang relatif sensitif (seksualitas, pendidikan pranikah, relasi intim) film ini disebut sebagai untuk penonton dewasa.
- Walau mengangkat budaya tradisional, film ini tetap sebuah karya dramatis — banyak elemen fiksi dan pengembangan karakter untuk keperluan cerita.
- Sebaiknya kalau Anda menonton, menyadari bahwa film tersebut mungkin mengandung adegan atau dialog yang menantang norma sosial, jadi persepsi penonton bisa berbeda sangat bergantung latar belakang budaya masing‑masing.