Rela Movies

Just another WordPress site

Monisme (2023): Film tentang Gunung Merapi yang Gabungkan Sains, Mitos, dan Horor

Gunung Merapi bukan cuma soal erupsi, lava, atau kepulan asap yang terlihat dari kejauhan. Di baliknya ada kehidupan masyarakat, pekerjaan, kepercayaan, hingga hubungan manusia dengan alam yang ternyata jauh lebih kompleks.

Hal inilah yang coba diangkat dalam Monisme (2023), film Indonesia-Qatar garapan sutradara Riar Rizaldi. Berbeda dari film bencana yang biasanya menampilkan kepanikan saat gunung meletus, Monisme justru mengajak penonton melihat Gunung Merapi dari berbagai sudut pandang.

Film berdurasi sekitar 115 menit ini memadukan unsur fiksi, dokumenter, eco-horror, etnografi, dan drama. Hasilnya adalah sebuah film eksperimental yang tidak hanya bercerita tentang gunung, tetapi juga mempertanyakan bagaimana manusia memahami dan memperlakukan alam.

Sinopsis Monisme (2023)

Monisme mengambil latar di sekitar Gunung Merapi dan menghadirkan berbagai karakter dengan hubungan berbeda terhadap gunung tersebut.

Ada ahli vulkanologi yang memahami Merapi melalui ilmu pengetahuan, penambang pasir yang kehidupannya berkaitan langsung dengan material vulkanik, serta seorang mistikus yang memiliki hubungan spiritual dengan gunung.

Ketiga sudut pandang tersebut kemudian bertemu dalam sebuah cerita yang memperlihatkan bahwa satu gunung dapat dipahami dengan cara yang sangat berbeda.

Bagi ilmuwan, Merapi merupakan fenomena alam yang dapat diamati dan dipelajari. Bagi penambang, Merapi juga menjadi bagian dari sumber penghidupan. Sementara bagi masyarakat yang memiliki kepercayaan tertentu, gunung dapat mempunyai makna spiritual yang jauh lebih dalam.

Menariknya, film ini tidak sekadar menempatkan sains dan kepercayaan sebagai dua hal yang saling bertentangan. Monisme justru mencoba memperlihatkan bagaimana berbagai bentuk pengetahuan tersebut hidup berdampingan di sekitar Merapi.

Gunung Merapi Jadi Pusat Cerita

Salah satu keunikan terbesar Monisme adalah posisi Gunung Merapi dalam cerita.

Merapi bukan hanya digunakan sebagai lokasi syuting atau latar belakang pemandangan. Gunung tersebut terasa seperti bagian penting dari cerita yang memengaruhi kehidupan para karakter.

Ahli vulkanologi mempelajarinya, penambang menggantungkan kehidupan pada materialnya, sedangkan masyarakat memiliki hubungan budaya dan spiritual dengannya.

Karena itu, film ini terasa seperti sedang memperkenalkan Merapi dari perspektif manusia yang berbeda-beda.

Perpaduan Sains dan Mitos

Salah satu tema menarik dalam Monisme adalah pertemuan antara ilmu pengetahuan dan kepercayaan lokal.

Film ini dikembangkan melalui kolaborasi dengan seorang ahli vulkanologi, penambang pasir, dan seorang mistikus. Pendekatan tersebut membuat perbedaan cara manusia memahami alam menjadi bagian penting dalam cerita.

Biasanya, film akan membuat batas yang jelas antara sains dan mitos. Namun Monisme justru memberikan ruang bagi berbagai perspektif tersebut untuk muncul secara bersamaan.

Pertanyaannya bukan sekadar siapa yang benar.

Film ini lebih jauh mengajak penonton memikirkan bagaimana manusia membangun hubungan dengan alam berdasarkan pengalaman, pekerjaan, ilmu pengetahuan, maupun kepercayaan.

Ada Unsur Horornya?

Jawabannya, ada, tetapi Monisme bukan film horor konvensional.

Film ini memiliki pendekatan eco-horror, yaitu horor yang berkaitan dengan alam, lingkungan, dan hubungan manusia dengan dunia di sekitarnya.

Jadi jangan berharap akan menemukan pola film horor biasa dengan jumpscare setiap beberapa menit.

Ketegangan dalam Monisme justru muncul dari suasana, alam, kepercayaan, serta pertanyaan mengenai posisi manusia di hadapan kekuatan alam yang jauh lebih besar.

Pendekatan seperti ini membuat Monisme terasa lebih filosofis sekaligus tidak biasa dibandingkan film bencana gunung pada umumnya.

Mengangkat Kehidupan Penambang Pasir

Selain membahas Merapi dari sisi spiritual dan ilmiah, Monisme juga menyentuh kehidupan penambang pasir.

Material vulkanik yang keluar dari aktivitas gunung dapat menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat. Namun di sisi lain, aktivitas manusia terhadap lingkungan juga membawa persoalan tersendiri.

Dari sini, film mulai mempertanyakan hubungan antara manusia, kebutuhan ekonomi, dan alam.

Apakah manusia hanya mengambil manfaat dari alam?

Atau sebenarnya manusia merupakan bagian dari alam itu sendiri?

Pertanyaan semacam inilah yang membuat judul Monisme terasa semakin relevan dengan isi film.

Pemain Monisme (2023)

Monisme menggunakan perpaduan aktor profesional dan non-aktor untuk membangun nuansa antara fiksi dan dokumenter.

Beberapa pemeran yang tercatat dalam film ini antara lain:

Penggunaan aktor dan non-aktor menjadi salah satu bagian dari pendekatan eksperimental film yang membuat batas antara cerita fiksi dan realitas terasa lebih tipis.

Riar Rizaldi, Sutradara di Balik Monisme

Monisme disutradarai oleh Riar Rizaldi, sineas Indonesia yang dikenal melalui karya-karya dengan pendekatan eksperimental dan isu lingkungan.

Dalam film ini, Riar tidak menjadikan Merapi sekadar objek visual. Ia menggunakannya sebagai ruang untuk membicarakan hubungan manusia dengan alam, termasuk sains, ekonomi, spiritualitas, dan eksploitasi lingkungan.

Pendekatan tersebut membuat Monisme terasa berbeda dari film Indonesia yang biasanya menggunakan gunung sebagai latar cerita petualangan atau bencana.

Monisme Raih Penghargaan di Festival Film

Meskipun bukan film blockbuster dengan jajaran bintang besar, Monisme memiliki perjalanan festival yang cukup kuat.

Film ini memenangkan Golden Hanoman Award di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2023.

Selain itu, Monisme juga memperoleh penghargaan di sejumlah festival internasional, termasuk Best Feature Film di Bucharest International Experimental Film Festival 2023 dan Best Film pada program New Asian Cinema di Five Flavours Asian Film Festival 2024.

Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa film eksperimental tentang Gunung Merapi ini mendapatkan perhatian bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di lingkungan festival film internasional.

Rating Monisme (2023)

Di IMDb, Monisme tercatat memperoleh rating sekitar 6,6/10. Namun, jumlah penilainya relatif lebih sedikit dibandingkan film-film populer sehingga angka tersebut sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya ukuran kualitas film.

Dari sisi festival, Monisme justru memiliki pencapaian yang cukup kuat karena berhasil membawa pulang sejumlah penghargaan.

Kenapa Monisme Menarik untuk Ditonton?

Ada beberapa alasan mengapa Monisme layak masuk daftar tontonan, terutama bagi penonton yang menyukai film yang tidak biasa.

Pertama, film ini memberikan perspektif berbeda tentang Gunung Merapi. Merapi tidak hanya ditampilkan sebagai gunung berapi, tetapi sebagai bagian dari kehidupan manusia.

Kedua, film ini menggabungkan sains, mitos, lingkungan, ekonomi, dan horor dalam satu cerita.

Ketiga, pendekatan docu-fiction membuat film terasa berbeda dari film fiksi biasa.

Keempat, Monisme tidak hanya mengajak penonton mengikuti cerita, tetapi juga mengajak mereka mempertanyakan kembali hubungan manusia dengan alam.

Kesimpulan

Monisme (2023) adalah film Indonesia-Qatar karya Riar Rizaldi yang menghadirkan Gunung Merapi dari sudut pandang yang jauh lebih luas daripada sekadar bencana alam.

Dengan memadukan dokumenter dan fiksi, film ini mempertemukan perspektif ahli vulkanologi, penambang pasir, dan mistikus dalam satu cerita. Unsur eco-horror, lingkungan, sains, mitos, serta kehidupan masyarakat membuat Monisme menjadi film yang cukup unik.

Bagi kamu yang mencari film tentang gunung dengan pendekatan berbeda, Monisme bisa menjadi pilihan menarik. Film ini bukan sekadar cerita tentang apa yang terjadi ketika gunung meletus, tetapi tentang bagaimana manusia hidup berdampingan dengan alam yang tidak pernah benar-benar bisa mereka kendalikan.

Category:

Leave a Comment